Topik Populer :
Tampilkan postingan dengan label Imam Syufi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Imam Syufi. Tampilkan semua postingan

Riwayat Abu Yazid Thaifur bin Isa Syurusyan al-Bisthami

Riwayat Para Sufi
Riwayat hidup Abu Yazid Thaifur bin Isa bin Syurusyan al-Bisthami
Abu Yazid Thaifur bin Isa bin Syurusyan al-Bisthami termasuk Sufi yang masyhur, tetapi pendapat-pendapatnya sering kontroversial, sehingga banyak orang yang mengecamnya.

Dialah tokoh paling unik dalam jagat mistik Islam. Kehidupannya banyak diliputi keistimewaan bak dongeng. Ia hidup sezaman dengan sufi besar Al-Hallaj di abad ke-9 Mesehi atau ke-3 Hijriyah. Meskipun pendapatnya sering kontroversial, sehingga memancing banyak kecaman, ia adalah salah seorang tokoh yang menjadi tonggak sejarah tasawuf dalam Islam. dialah Abu Yazid Al-Bisthami, sufi penemu istilah-istilah tasawuf yang disebut Ittihad (bersatunya pribadi dengan Allah), Fana (leburnya pribadi dengan Allah), Baqa (keabadian sifat-sifat Allah dalam Pribadi).

Dilahirkan dengan nama Abu Yazid Thaifur bin Isa bin Syurusyan al-Bisthami di Desa Bustham, persia (Iran) sebelah timur laut. Di sana pula ia wafat pada tahun 261 H / 874 M atau 264 H / 877 M. Tanggal dan bulan kelahirannya tidak ada yang mencatat, sebab perjalanan riwayat hidupnya memang sangat sulit dilacak. Yang ada hanyalah beberapa catatan klasik yang terserak-serak. Diantaranya dalam kitab Tadzkirul Awliya karya Fariduddin Aththar, dan Kasyful Mahjub karya Al-Hujwiri. Tetapi justru sedikitnya catatan itu malah menjadikannya sebagai tokoh legendaris.

Ia adalah pioner aliran ekstatik (mabuk) dalam sufisme. Ia dikenal karena keberaniannya dalam mengekspresikan peleburan mistik menyeluruh kepada ketuhanan. Ia sangat sangat mempengaruhi imajinasi para sufi yang hidup sesudah masanya.

Seperti ulama atau sufi lainnya, sejak kacil Yasid sangat tekun mendalami ilmu agama. Dukungan moral ibunya mendorong motivasi Abu Yazid untuk menuntut ilmu lebih tinggi. Ada cerita menarik tentang masa kanak-kanaknya, sang Ibu pernah bercerita, “Ketika ia masih dalam kandungan, aku sering menyuap makanan yang aku ragukan halalnya. Ketika itulah Yazid yang masih dalam kandungan memberontak sebelum aku muntahkan makanan haram itu.” Ibunya memang seorang muslim yang shalihah.

Mengenai sang Ibu yang sangat ia hormati itu, Abu Yazid pernah berkata ”Kewajiban yang kukira paling sepele di antara kewajiban lainnya, ternyata merupakan kewajiban yang paling utama, yaitu berbakti kepada Ibu. Dalam berbakti kepada Ibu itulah, kuperoleh yang segala kucari, segala sesuatu yang bisa kupahami lewat tindakan disiplin dan pengabdian kepada Allah.” Ayahnya juga seorang muslim yang saleh, sementara kakeknya penganut Zoroaster (paham yang mengajarkan menyembah Dewa Api) yang belakangan memeluk Islam.

Suatu malam, ibu memintaku untuk mengambilkan air minum, aku bergegas mengambilkan air minum untuk beliau. Namun ta ada air di teko, kemudiaan aku ambil kendi, tapi kendi itu juga kosong. Maka aku pergi kesungai untuk mengisi kendi dengan air. Ketika aku kembali ke rumah, ibuku ternyata telah tertidur kembali.”

Malam itu udara sangat dingin. Aku memegang teko dengan tanganku. Ketika ibu terbangun, ia pun minum dan mendoakanku. Lalu ia melihat bahwa teko itu membuat tanganku membeku karena kedinginan.

“Mengapa tidak engkau letakkan saja teko itu?” tanya ibuku.

“Aku takut kalau ibu terbangun, aku tidak di sisi ibu,” jawabku.

“Biarkan pintu setengah terbuka,” kata ibuku kemudian.

Sepanjang malam aku terjaga untuk memastikan bahwa pintu kamar ibuku setengah terbuka, karena aku tidak boleh mengabaikan perintahnya.

Suatu hari, di sekolah, gurunya menjelaskan makna salah satu ayat di Sura Luqman: “Bersyukurlah kepada-Ku, dan kepada kedua orang tuamu” Ayat ini sangat menggetarkan hati Abu Yazid.

Guru,” katanya seraya meletakkan buku catatannya, “Izinkahlah aku pulang dan mengatakan sesuatu pada ibuku.” Gurunya mengizinkan Abu Yazid pulang untuk menemui Ibunya.

“Ada apa Thaifur,” pekik ibunya. “Mengapa engkau pulang? Apa mereka memberimu hadiah, atau ada acara khusus?”

“Tidak,” jawab Abu Yazid. “Pelajaranku telah sampai pada ayat dimana Allah memerintahkan aku untuk mengabdi kepada-Nya dan kepada ibu. Aku tidak akan sanggup melaksanakan keduanya sekaligus. Ayat ini menggetarkan hatiku. Hanya ada dua pilihan: Ibu memintaku dari Allah agar aku dapat menjadi milik ibu sepenuhnya, atau ibu menyerahkanku kepada Allah agar aku dapat sepebuhnya bersama-Nya.”

“Anakku, aku serahkan dirimu kepada Allah, dan membebaskanmu dari kewajibanmu kepadaku,” kata ibunya. “Pergilah dan jadilah milik Allah.”

Abu Yazid yang tidak jemu-jemunya menuntut ilmu, tak pernah pandang siapa gurunya, konon, ia berguru kepada sekitar 113 orang  sebagian baesar guru spritual. Sebelum mempelajari ilmu tasawuf, ia belajar fikih madzhab Hanafi. Diantara guru yang paling utama adalah Abu Ali Sindi, yang memang banyak mempengaruhi ajaran-ajaran tasawufnya di belakang hari.

Di antara mereka ada yang dijuluki As-Shadiq. Abi Yazid sedang duduk ketika gurunya itu tiba-tiba berkata, “Abu Yazid, ambilkan aku kitab dari jendela itu.”

“Jendela, jendela yang mana?” Tanya Abu Yazid. Gurunya balik bertanya,

“Selama ini engkau selalu datang ke sini, dan engkau tidak pernah melihat jendela itu?”

“Tidak pernah,” jawab Abu Yazid. “Apa urusanku dengan jendela? Ketika aku berada dihadapanmu, aku menutup mataku dari hal-hal lain. Aku datang kepadamu bukan untuk melihat-lihat.”

“Kalau begitu,” kata sang guru, “Pulanglah ke Bistham, usahamu telah sempurna.”

Gagasan Tasawwuf Kontroversial
Tetapi gagasan-gagasan tasawufnya yang kontroversial sering membuat orang mengecamnya.

Misalnya pendapatnya mengenai keadaan “mabuk” dalam rangka mencintai Allah – acapkali menimbulkan salah pengertian. Jangan salah paham, yang dimaksud dengan “Mabuk” bukanlah mabuk kerena kebanyakan minum Khamer (minuman keras), melainkan keadaan mental ketika Abu Yazid sedang mengalami ekstasi yang ia sebut Fana alias “Lebur” (dengan Allah). Dalam keadaan seperti itu bicaranya terkadang tidak logis, sehingga bisa menimbulkan salah paham.

Dialah pula sufi pertama yang memperkenalkan istilah tasawuf yang disebut Fana, Baqa, Ittihad. Ajaran tasawufnya yang mengajarkan ketiga hal tersebut belum ada dalam pendangan para sufi sebelumnya. Cara pandangnya sangat berbeda dengan sufi lain, misalnya Junaid al-Bagdadi. Itu sebabnya banyak kritik terhadap ajaran tasawuf Abu Yazid. Kritik keras diantaranya datang dari sufi besar at-Taftazani, yang mengatakan bahwa Abu Yazid terlalu berlebih-lebihan dalam menyatakan Syatahat, ekspresi yang dianggap aneh pada saat mengalami Fana. Misalnya kalimat

“Anallah” (akulah Tuhan) yang di ucapkan berkali-kali.

Ajaran tentang Fana, Baqa, dan Ittihad, merupakan tiga aspek dari pengalaman spritual yang terjadi setelah tingkat tertinggi yang dicapai oleh seorang sufi, yaitu Makrifat (mengenal Allah). Yang dimaksud dengan Fana ialah lenyapnya kesadaran tentang alam, termasuk tentang diri sendiri. Kemanapun ia menghadap, yang ada di mata hatinya hanyalah Allah. Hanya yang berada dalam kesadaran. Selain Allah lenyap dari kesadaran. Karena Fana itulah, terjadilah Baqa, kesadaran tentang selain Allah Fana atau sirna, lenyap, tetapi kesadaran tentang Allah menjadi Baqa alias abadi, terus berlangsung. Sedangkan Ittihad ialah keadaan ketika seorang sufi tenggelam dalam lautan sifat-sifat ketuhanan.

Meski begitu ajaran tasawufnya sangat memperhatikan syariat dan keteladanan Rasulullah SAW. Hal itu tampak misalnya ketika ia menyampaikan salah satu nasehatnya. “Kalau engkau lihat seseorang sanggup melakukan pekerjaan keramat seperti duduk bersila di udara, janganlah terpedaya olehnya. Perhatikan apakah ia melaksanakan perintah, menjauhi larangan dan menjaga batas-batas syariat.”

Dengarkan pula komentarnya ketika ia menyaksikan orang yang meludah ke arah kiblat di masjid (yang berarti melanggar sunah Rasul), padahal ia dikenal sebagai Zahid, yaitu orang yang lebih mementingkan kehidupan akherat. Katanya, “Orang itu tidak menjaga satu adab dari adab-adab Rasulullah. Kalau ia berbuat seperti itu, bagaimana dakwahnya dapat dipercaya?” Abu Yazid memang mengutamakan akhlak, yang niscaya sangat berpengaruh terhadap kehidupan rohaniah seseorang.

Ketika ia ditanya oleh seseorang, “Apa yang terbaik bagi manusia dalam kehidupan ini?”

“Watak qana’ah,” jawabnya.
“Kalau itu tidak ada?”
“Tubuh yang kuat.”
“Dan kalau itupun tidak ada?”
“Telinga yang penuh perhatian.”
“Dan tanpa itu?”
“Hati yang mengetahui.”
“Dan tanpa itu?”
“Mata yang melihat.”
“Dan tanpa itu?”
“Kematian mendadak.”

Abu Yazid membutuhkan waktu 12 tahun penuh untuk tiba di Mekkah. Itu karena di setiap tempat ibadah yang ia lalui, ia selalu membentangkan sajadahnya untuk mendirikan shalat sunnah dua rakaat.

Akhirnya ia sampai di Ka’bah. Tapi tahun itu ia tidak pergi ke Madinah. “Tidaklah pantas menjadikan kunjungan ke Madinah sebagai sekedar bagian dari kunjunganku kali ini,” ia menjelaskan. “Aku akan mengenakan pakaian haji tersendiri, bukan yang kupakai saat ini, untuk kunjunganku ke Madinah.”

Tahun berikutnya ia kembali mengenakan pakaian haji tersendiri. Di suatu kota ia berpapasan dengan sekelompok besar orang yang kemudian menjadi muridnya. Ketika ia pergi, orang-orang itu mengikutinya.

“Siapa mereka,” tanyanya sambil menengok kebelakang.

Terdengar jawaban, “Mereka ingin menemanimu.”

“Ya Allah,” pekik Abu Yazid. “Aku mohon pada-Mu, jangan jadikan aku selubung antara para hamba-Mu dan diri-Mu.”

Lalu, dengan tujuan menghapus kecintaan orang-orang itu padanya dan agar dirinya tidak menjadi penghalang di jalan mereka menuju Allah. Setelah shalat subuh, Abu Yazid memandang mereka dan berkata. “Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tiada Tuhan selain aku, maka sembahlah aku.”

“Dia sudah gila,” pekik orang-orang itu, dan mereka pun pergi meninggalkan Abu Yazid.Abu Yazid meneruskan perjalanan, dan ia menemukan tendkorak yang bertuliskan: “Tuli, Bisu, dan Buta, maka mereka tidak mengerti.”

Ia memungut tengkorak itu, sanmbil menangis ia menciuminya. “Tampaknya ini kepala seseorang yang dibinasakan Allah, karena ia tidak memiliki telinga untuk mendengar suara abadi, tidak memiliki mata untuk melihat keindahan abadi, tidak memiliki lidah untuk mengagungkan kebesaran Allah, tidak memiliki akal untuk memahami sedikit saja pengetahuan hakekat Allah. Ayat ini berbicara tentangnya.”

Suatu kali Abu Yazid bepergian dengan membawa seekor unta. Ia menaruh pelana dan perbekalannya di punggung unta itu.

 “Unta kecil yang malang, sungguh berat beban yang dibawanya,” pekik seseorang, “Sungguh kejam.”

Mendengar orang itu berkata demikian terus-menerus, Abu Yazid akhirnya menjawab, “Anak muda, bukan unta kecil ini yang membawa beban.”

Anak muda itu melihat punggung unta Abu Yazid. Ia melihat bahwa perbekalan Abu Yazid melayang di atas punggung unta itu, dan unta itu tidak terbebani sedikit pun.

“Kemuliaan atas Allah, sungguh menakjubkan!” teriak anak muda itu.

“Jika aku menyembunyikan kebenaran tentang diriku, engkau mencela,” kata Abu Yazid. “Namun jika aku memperlihatkannya, engkau tidak mampu memikulnya, lantas aku harus bagaimana?”

Mi’rajnya Abu Yazid
Ia mengisahkan tentang Mi’rajnya sebagai berikut:

Aku memandang Allah dengan mata keyakinan setelah Dia mengangkatku ke derajat kemerdekaan dari semua makhluk dan Dia memberikan pencerahan kepadaku dengan cahaya-Nya, menyingkapkan rahasia-rahasia-Nya yang menakjubkan dan memanifestasikan kebesaran ke-Dia-an-Nya. Aku memandang diriku sendiri, dan merenungkan dalam-dalam rahasia-rahasia dan sifat-sifatku. Cahayaku adalah kegelapan di sisi cahaya-Nya. Kebesaranku menyusut menjadi keburukan di sisi kebesaran-Nya. Kemuliayaanku hanyalah kesombongan disisi kemuliaan-Nya. Milik-Nya lah segala kesucian, dan milikku lah segala kekotoran.

Saat aku memandang lagi, aku melihat keberadaanku berasal dari cahaya-Nya. Aku sadar bahwa kebesaran dan kemuliaanku berasal dari kebesaran dan kemuliaan-Nya. Apa saja yang aku lakukan, aku lakukan dengan kemampuan yang berasal dari kemahakuasaan-Nya. Apapun yang dilihat oleh mata tubuh fisikku, dilihat melalui-Nya. Aku memandang dengan mata keadilan dan realitas. Semua ibadahku merupakan karunia-Nya, bukan dariku, namun aku menyangka bahwa akulah yang menyembah-Nya

Aku merenung, “ Ya Allah, apa ini?”

Dia berkata, “Aku, dan bukan selain-Ku.”

Lalu Dia menjahit mataku, agar tidak menjadi alat untuk melihat, agar aku tidak melihat. Kemudian Dia mengajarkan pokok permasalahan, yakni ke-Dia-an-Nya pada pandangan mataku. Dia mencerabut aku dari keberadaanku, dan membuatku abadi melalui keabadian-Nya. Dia menyingkapkan ke-Esa-an-Nya, tak terdesak oleh keberadaanku.

Di sana aku terdiam sejenak, aku menemukan ketenangan. Aku menutup telinga penentangan, aku menarik lidah hasrat ke dalam tenggorok kekecewaan. Aku mengabaikan pengetahuan yang dipelajari, dan mengenyahkan campur tangan jiwa yang mengajak kepada keburukan. Aku tetap diam sejenak, tanpa alat dan perantara apapun, dan dengan tangan kesucian-Nya aku menyapu bid’ah dari jalan-jalan akar prinsip-prinsip.

Allah mengasihiku, Dia menganugrahiku pengetahuan hakiki, dan memasang lidah kebaikan-Nya kedalam tenggorokanku. Dia menciptakan mataku dari cahaya-Nya, maka aku melihat semua makhluk melalui-Nya. Dengan lidah kebaikan-Nya aku berkomunikasi dengan-Nya, dari pengetahuan-Nya aku memperoleh pengetahuan, dan dengan cahaya-Nya aku memandang-Nya.

Dia berkata, “Wahai engkau yang semua tanpa semua maupun dengan semua, tanpa kelengkapan maupun dengan kelengkapan!”

Aku berkata, “Ya Allah, jangan biarkan aku terpedaya oleh hal ini, jangan biarkan aku berpuas diri dengan keberadaanku, tidak merindukan-Mu. Lebih baik Engkau menjadi milikku tanpaku, daripada aku menjadi milikku sendiri tanpa-Mu. Lebih baik aku berbicara pada-Mu melalui-Mu, daripada aku berbicara pada diriku sendiri tanpa-Mu.”

Aku berkata, “Aku telah menyatakan keimananku dan hatiku percaya dengan teguh.”Dia memberi pencerahan padaku, dan menghantarkanku keluar dari kegelapan jiwa jasmani dan pelanggaran-pelanggaran watak badaniah. Aku sadar bahwa melalui-Nya lah aku hidup, dank arena karunia-Nya aku dapat menghamparkan permadani kebahagiaan dalam hatiku.

Aku mengatakan, “Aku menginginkan-Mu, karena Engkau lebih baik daripada karunia, lebih besar daripada kedermawanan, dan melalui-Mu aku telah menemukan kepuasan dalam diri-Mu. Jkarena Engkau milikku, aku telah menggulung lembaran karunia dan kedermawanan. Jangan cegah aku dari-Mu, dan jangan tawarkan aku apa yang rendah di hadapan-Mu.”

Melihat kelemahan dan kebodohanku, Dia memperkuatku dengan kekuatan-Nya dan menghiasiku dengan perhiasan-Nya.

Dia menyematkan mahkota kemurahan hati di kepalaku, dan membukakan pintu istana ke-Esa-an bagiku. Ketika Dia melihat bahwa sifat-sifatku menjadi hampa di hadapan-Nya, Dia menganugerahiku sebuah nama dari kehadiran-Nya, dan memanggilku dengan ke-Esa-an-Nya.

Lalu Dia membuatku merasakan tikaman kecemburuan dan membangkitkanku lagi. Aku bangkit dalam kesucian dari tungku ujian. Dia berkehendak untuk menunjukkan bahwa bila tanpa kasih saying-Nya, semua makhluk ini tidak akan pernah menemukan ketenangan, dan bahwa bila tidak karena cinta-Nya, niscaya kemahakuasaan-Nya dapat menimbulkan kerusakan pada segala hal.

Aku menncari dalam padang belantara yang luas, tak ada permainan yang aku lihat yang lebih baik daripada kefakiran yang amat sangat, tak ada sesuatu yang aku ketahui yang lebih baik daripada ketidakmampuan absolut. Tak ada lampu yang aku lihat lebih terang daripada diam, dan tak ada kata-kata yang aku dengar yang lebih baik daripada kebungkaman. Aku menjadi penghuni istana kesunyian, aku mengenakan pakaian ketabahan, hingga segala persoalan mencapai inti mereka.

Dia membuka celah kelegaan dalam dadaku yang kelam, dan memberiku lidah kebebasan dan penyatuan. Maka kini aki memiliki lidah, hati dan mata karya Ilahi.

Dengan pertolongan-Nya aku bicara, dengan kekuatan-Nya aku menggenggam.

Lidahku adalah lidah penyatuan, jiwaku adalah jiwa pembebasan. Bukanlah dariku aku bicara, aku hanya penyampai belaka, juga bukan melaluiku aku bicara, aku hanya pengingat belaka. Dia menggerakkan lidahku sesuai dengan kehendak-Nya. Aku tiada lain hanya penerjemah belaka. Kenyataannya, Dialah yang berbicara, bukan aku.

“Aku tidak ingin melihat makhluk-Mu, namun jika Engkau berkehendak untuk menghadirkanku dihadapan para makhluk-Mu, aku tidak akan menentang-Mu, letakkan aku dalam ke-Esa-an-Mu, sehingga ketika makhluk-makhluk-Mu melihatku dan memandang karya-Mu, mereka akan melihat yang mencipta, dan aku tidak berada disana sama sekali”

Dia mengabulkan permohonanku, dan menyemaikan mahkota kemurahan hati dikepalaku, dan membuatku melampaui maqam watak badaniahku.

Ia juga mengisahkan: ketika aku mencapai penyatuan, adan itulah saat pertama kali aku merasakan yang Esa, selama bertahun-tahun aku berlari dalam lembah itu dengan kaki pemahaman, hingga aku menjadi seekor burung yang tubuhnya adalah ketunggalan, yang sayapnya adalah.keabadian, aku terus terbang ke cakrawala ke-tanpasyarat-an. Saat aku telah lenyap dari segala yang diciptakan.

“Ya Allah, apapun yang telah aku lihat, segalanya aku.tiada jalan bagiku menuju-Mu, selama masih ada “aku” yang tersisa, tak ada pelampauan kedirianku bagiku. Apa yang harus aku lakukan?”

“Untuk menghilangkan ke-Aku-anmu, ikutilah kekasih-Ku, Muhammad saw, urapi matamu dengan debu kakinya, dan teruslah mengikutinya.”

Yahya bin Mu’adz mengatakan dalam suratnya kepada Abu Yazid, “Apa pendapatmu tentang seorang yang telah meminum segelas anggur, dan menjadi mabuk dari sartu keabadian ke keabadian lannya?”

Abu Yazid membalas suratnya, “Aku tidak tahu tentang hal itu, yang kutahu, ini adalah seorang yang seharian penuh, siang dan malam, menguras seluruh lautan dari satu keabadian ke keabadian lainnya dan meminta lagi.”

Yahya bin mu’adz menulis lagi, “Aku punya satu rahasia. Surga adalah tempat pertemuan kita, di sana, di bawah naungan pohon Tuba, aku akan memberitahukannya kepadamu.”

Bersama dengan suratnya, Yahya juga mengirimkan sepotong roti yang bertuliskan: |Seorang guru spiritual harus mengambil manfaat roti ini, karena adonannya aku campur dengan air zamzam.”

Dalam surat balasannya, Abu yazid berkata, “Mengenai tempat pertemuan yang engkau sebutkan, dengan perhatian-Nya padaku, bahkan sekarang aku tengah menikmati surga dan naungan pohon Tuba. Sedangkan mengenai rotimu, aku tidak dapat memakannya, engkau telah mengatakan dengan air apa engkau mengadoninya, namun engkau tidak mengatakan benih apa yang engkau taburkan.”

Akhirnya Yahya memendam kerinduan yang amat sangat untuk bertemu dengan Abu Yazid. Lalu ia datang berkunjung dan tiba pada waktu salat malam (magrib dan isya’).

“Aku tidak boleh mengganggu sang syekh,” kata Yahya dalam hati. “Namun aku juga tidak dapat menahan kerinduanku hingga pagi. Kemudian aku melanjutkan perjalananku menuju padang pasir dimana Abu yazid berada, sebagaimana dikatakan orang-orang kepadaku. Aku melihat sang syekh mendirikan shalat malam, kemudian hingga keesokan harinya ia berdiri di ujung jari-jari kakinya. Aku berdiri mematung diliputi rasa kagum, dan sepanjang malam aku mendengar ia sibuk berdoa. Saat fajar tiba, ia berujar, “Aku berlindung pada-Mu dari meinta maqam ini kepada-Mu.”

Lalu Yahya memulihkan dirinya dari kekagumannya, dan memberi salam kepada Abu Yazid, kemudian bertanya tentang apa yang telah terjadi padanya semalam.

“Lebih dari 20 maqam disebutkan satu persatu kepadaku,” jawab Abu yazid. “Namun aku tidak menginginkan satu pun, karena semua maqam itu adalah maqam penghijaban.”

“Wahai syekh, mengapa anda tidak meminta makrifat kepada Allah, karena Dia adalah raja dari segala raja dan telah berfirman, “Mintalah apa saja yang kalian kehendaki?”

“Diamlah,” tujas Abu Yazid. “Aku cemburu kepada diriku sendiri karena mengenal-Nya, sebab aku ingin tidak seorangpun mengenal-Nya kecuali Dia. Dimana pengetahuan-Nya, apa urusanku, sehingga aku harus campur tangan? Wahai Yahya, sudah merupakan kehendak-Nya bahwa hanya Dia, dan tidak selain-Nya, yang mampu mengenal-Nya.”

“Demi keagungan Allah,” tutur Yahya, “Berilah aku sedikit saja karunia yang engkau dapatkan semalam.”

Abu Yazid mengatakan, “Jika engkau diberi keterpilihan Adam, kekudusan Jibril, persahabatan Ibrahim, kerinduan Musa, kesucian Isa, dan cintanya Rasulullah Muhammad saw, niscaya engkau mesih belum puas juga. Engkau akan terus mencari lebih, melampaui segala hal. Tetapkan pandanganmu ke atas, dan jangan pernah turun, karena apapun yang engkau turun kepadanya, dengannyalah engkau terhijabi.”
***
    Diriwayatkan, ada seorang Asket yang merupakan seorang wali besar Kota Bistham. Ia memiliki banyak murid dan pengagum, namun ia mesih selalu menghadiri majelis Abu Yazid. Ia menyimak semua perkataan

Abu Yazid, dan duduk bersama para murid Abu Yazid.

Suatu hari ia berkata kepada Abu Yazid, “Wahai syekh, hari ini telah genap 30 tahun aku berpuasa. Di malam hari aku berpuasa dan mendirikan shalat malam, jadi aku tidak pernah tidur sama sekali. Namun tetap saja aku tidak menemukan dalam diriku jejak pengetahuan yang engkau miliki. Aku meyakini pengetahuan ini, dan aku mencintai pengajaran ini.”

Abu Yazid berkata, seandainya selama 300 tahun engkau berpuasa di siang hari dan shalat di malam hari, niscaya engkau tetap tidak akan pernah memahami walau hanya secuil dari pengetahuan ini.”

“Mengapa,” tanya si murid Abu Yazid itu.

“Karena engkau terhijab oleh dirimu sendiri,” jawab Abu Yazid.

“Lalu apa obatnya?” Tanya lelaki itu.

“Engkau takkan pernah menerimanya,” jawab Abu Yazid.

“Aku akan menerimanya,” tukas lelaki itu. “Katakanlah padaku, agar aku dapat melakukan apa yang engkau resepkan.”

“Baiklah,” kata Abu Yazid. “Saat ini juga, pergi dan cukurlah janggut serta rambutmu. Tanggalkanlah pakaian yang engkau kenakan kini, dan pakailah celana wol sebatas pinggangmu, gantungkan sekantong kacang di lehermu, kemudian pergilah ke pasar. Kumpulkanlah anak-anak sebanyak yang engkau mampu, katakana pada mereka, “Aku akan memberikan kacang kepada siapa saja yang mau menamparku,” lalu pergilah ke seluruh penjuru kota dan lakukanlah hal yang sama, terutama pergilah ke tempat-tempat dimana orang-orang mengenalmu. Itulah obat bagimu.”

Kemuliaan atas Allah !, tiada Tuhan selain Allah!” pekik  lelaki itu mendengar penjelasan Abu Yazid.

“Jika seorang kafir mengucapkan kata-kata itu, maka ia menjadi seorang muslim,” tukas Abu Yazid. “Namun dengan mengucapkan kata-kata yang sama, engkau telah menjadi seorang polities.”

“Bagaimana bisa begitu?” tanya lelaki itu.

“Karena engkau menganggap dirimu terlalu besar untuk melakukan apa yang telah aku katakana,” jawab Abu Yazid. “Maka dengan begitu engkau telah menjadi seorang polities. Engkau menggunakan kalimat tadi untuk mengungkapkan kebesaran dirimu, bukan untuk memuliakan Allah.”

“Aku tak dapat melakukannya,” protes lelaki itu, “Berilah aku petunjuk yang lain.”

“Obatnya adalah apa yang telah aku katakana,” tukas Abu Yazid.

Aku tak dapat melakukannya,” kata lelaki itu.

“Bukanlah telah aku katakana bahwa engkau tidak akan mau melakukannya, bahwa engkau tidak akan pernah mematuhiku,” tutur Abu Yazid.

Selama lima tahun aku menjadi cermin bagi diriku sendiri, dan aku menggosok cermin itu dengan ibadah dan kepatuhan mutlak kepada Allah. Setelah itu, aku memandang cerminku sendiri selama satu tahun, aku melihat sebuah “korset kafir”  angan-angan, main-main dan egoisme, mengikat pinggangku, karena aku mengandalkan ibadah dan kepatuhanku sendiri serta puas dengan perilakuku sendiri.

Selama lima tahun berikutnya, aku bekerja keras hingga korset itu menghilang dan aku menjadi seorang muslim sekali lagi. Aku memandang semua makhluk, dan melihat mereka semua mati. Aku bertakbir empat kali untuk mereka, dan kembali dari upacara penguburan mereka tanpa berdesakan dengan makhluk-makhluk Allah. Dengan pertolongan Allah, aku mencapai-Nya.

Setiap kali Abu Yazid tiba di pintu sebuah masjid, ia akan berdiri sejenak dan menangis.




“Mengapa engkau melakukan ha “Aku merasa diriku bagai seorang wanita yang tengah haid, yang malu untuk memasuki masjid dan takut mengotorinya.” Jawabnya.

Pir Umar mengisahkan bahwa ketika Abu Yazid hendak mengasingkan diri untuk beribadah, ia akan masuk kerumahnya dan menutup rapat-rapat semua celah yang ada. “Aku takut ada suara-suara atau kebisingan yang akan menggangguku.” Katanya.

Tentu saja perkataannya itu hanya dalih. Isa al-Bisthami mengisahkan, “Aku bergaul dengannya selama 13 tahun dan aku tidak pernah mendengar mengucapkan satu patah katapun. Ia meletakkan kepala di atas lututnya, begitulah kebiasaannya, sesekali ia mengangkat kepalanya, mendesah, lalu kembali beribadah.”

Sahlagi juga mengisahkan bahwa memang begituylah kebiasaan Abu Yazid saat ia tengah berada dalam keadaan “menyusut” sebaliknya, di hari-hari ia tengah berada dalam keadaan “mengembang”, setiap orang merasakan manfaat yang besar dari nasehatnya.

Suatu ketika,  saat ia mengasingkan diri, ia berkata, “Kemuliaan atasku, betapa besar martabatku”. Ketika ia kembali menjadi dirinya sendiri, para muridnya memberitahukan bahwa ia telah berkata demikian. Ia menjawab, “Allah adalah musuhmu, dan Abu Yazid juga musuhmu. Jika aku berbicara seperti itu lagi, potonglah-potonglah tubuhku,” kemudiaa ia memberi setiap muridnya sebilah pisau seraya berkata, “Jika kata-kata itu meluncur dari mulutku lagi, bunuhlah aku dengan pisau ini.”

Ternyata perkataan itu meluncur lagi dari mulut Abu Yazid. Seluruh ruangan terasa sesak dipenuhi oleh Abu Yazid (yang membesar). Agar tidak terhimpit, para sahabatnya menarik keluar batu bata dari dinding, dan masing-masing menusuknya dengan pisau. Pisau-pisau itu menusuk tubuh Abu Tazid seperti menusuk air, tak satupun tusukan yang dapat melukainya. Setelah beberapa saat, bentuk Abu Yazid kembali seperti semula, kemudian menyusut, hingga ia tampak seperti burung pipit, duduk di mihrab. Para sahabatnya menghampirinya dan mengatakan apa yang terjadi padanya. “Ini adalah Abu Yazid, ia yang kini kalian lihat,” ujarnya. “Yang tadi bukanlah Abu Yazid.”

Suatu hari, seorang lelaki yang tidak mempercayai Abu yazid mendatangi untuk mengujinya. “Jelaskan padaku jawaban dari masalah ini,” katanya. Abu Yazid menangkap gelagat ketidak percayaan lelaki itu. Abu Yazid menjawab pertanyaan lelaki itu, “Di gunung itu ada sebuah gua, di gua itu ada seorang sahabatku, mintalah jawaban darinya.”

Lelaki itupun bergegas menuju gua yang dimaksud, disana ia melihat seekor naga yang sangat besar dan mengerikan. Seketika ia jatuh pingsan. Pada saat siuman. Ia burur-buru pergi dari mulut gua itu dan meninggalkan sepatunya yang terlepas disana. Ia kembali menemui Abu Yazid, bersimpuh dihadapannya dan bertobat.
Abu Yazid berkata kepada lelaki itu, “Engkau tidak mampu menjaga sepatumu, hanya karena rasa takutmu kepada makhluk. Lalu, dalam keterpesonaan kepada Allah, bagaimana engkau bisa menjaga “Penyingkapan” yang engkau cari dalam ketidakpercayaanmu?”

Ada seorang lelaki mendatangi kediaman Abu Yazid dan memanggilnya.

“Siapa yang engkau cari,” tanya Abu Yazid.

“Abu Yazid,” jawab lelaki itu.

“Lelaki yang malang!” kata Abu Yazid, aku telah mencari Abu Yazid selama 30 tahun, namun jejak dan tanda-tandanya pun tidak kutemukan.”

Kejadian ini dilaporkan kepada Dzun Nun. Ia berkomentar, “Allah mengasihi saudaraku Abu Yazid! Ia hilang ditemani oleh seorang yang hilang dalam Allah.”

Betapa sempurnanya peleburan diri Abu Yazid kepada Allah. Sampai-sampai setiap saat disapa oleh seorang muridnya yang selalu bersamanya selama 20 tahun, ia akan berkata, “Anakku, siapa namamu?”

“Guruku, anda mengolok-olokku, telah genap 20 tahun aku melayani guru, namun masih saja setiap hari guru menanyakan namaku,” kata si murid.

“Anakku,” jawab Abu Yazid, “Aku tidak mengolok-olokmu, namun nama-Nya telah menguasai hatiku, dan telah menghapus semua nama lain. Setiap nama yang baru aku ketahui, pasti segera hilang dari ingatanku, dan aku selalu dirasuki oleh keinginan, yaitu keinginanku adalah tidak memiliki keinginan.”

Saat menjelang ajalnya, ia menuju mihran dan mengenakan korset, ia mengenakan jubah dan penutup kepalanya secara terbalik.

Kemudian berkata:

“Ya Allah, aku tidak membesar-besarkan disiplin yang telah kujalani hampir seumur hidupku. Aku tidak memamerkan seluruh shalat malamku. Aku tidak menggembar-gemborkan puasa yang telah kulakukah hampir sepanjang hidupku. Aku tidak menghitung-hitung bacaan Qur’anku. Aku tidak membicarakan dan memamerkan pengalaman, doa-doa dan kedekatan spiritualku.

Engkau tahu bahwa aku tidak mengungkit-ungkit apapun, dan apa yang aku katakana sekarang ini tidaklah dimaksudkan untuk membesar-besarkannya, tidak juga karena aku tergantung padanya. Aku mengatakan semua ini karena aku malu atas apa yang telah aku lakukan. Engkau telah mengaruniaiku kemuliaan untuk melihat diriku sendiri mulia. Semuanya ini tidaklah berarti apa-apa, tiada bernilai.

Aku adalah seorang lelaki tua Turkistan berusia 70 tahun yang rambutnya telah memutih dalam kekafiran. Aku datang dari gurun Pasir sambil memekik, “Tangri… Tangri…” baru sekarang aku belajar mengatakan, “Allah… Allah…” baru sekarang aku merobek korsetku. Baru sekarang aku melangkahkan kakiku ke lingkaran Islam. Baru sekarang aku gerakkan lidahku untuk melafalkan kalimat syahadat.

Semua yang Engkau lakukan, Engkau lakukan tanpa sebab, penerimaan-Mu bukan disebabkan kepatuhan hamba-Mu, dan penolakan-Mu bukan disebabkan pembangkangan hamba-Mu. Semua yang kulakukan tiada lain hanyalah debu. Segala yang berasal dariku yang tidak membuat-Mu ridla, Engkau maafkan. Dan Engkau menghapus debu pembangkangan dari diriku, karena aku sendiri telah menghapus debu anggapan bahwa aku telah mematuhi-Mu.


Penuh Teka-teki
Abu Yazid juga mempunyai pandangan tersendiri tentang sufi. Katanya, “Sufi adalah seorang yang tangan kanannya memegang kitabullah, tangan kirinya memegang Sunah Rasul, salah satu matanya memandang ke Surga, mata yang lain melihat ke neraka. Ia mengenakan sarung dunia dan mantel akhirat sambil berseru, Labbaik ya Allah – Aku datang memenuhi panggilan-Mu.

Belakangan para ahli sangat terkesan terhadap penampilan Abu Yazid, sementara keperibadian dan ucapan-ucapannya penuh dengan teka-teki. Peneliti sufi asal Ingris, AJ.Arberry, menjulukinya sebagai First of the intoxicated sufis atau sufi pertama yang mabuk kepayang. Sedangkan Helmut Ritter, R.C. Zaehner dan RA. Nicolson menyatakan, Abu Yazid adalah orang yang paling paham tentang Fana. Bahkan sufi dan penyair besar Jalaluddin Rumi juga sangat mengaguminya.

Dalam puisi Matsnawi (kimpulan puisi) nya, Rumi menulis betapa suatu kali Abu Yazid diprotes oleh murid-muridnya, dengan mengatakan bahwa Abu Yazid Kafir. Mereka sempat menghunus pedang. Tetapi pedang itu malah berbalik menusuk para murid itu sendiri. Sementara filsuf dan pujangga Pakistan, Muhammad Iqbal, ketika menulis buku puisi Javid Nama, sangat terinspirasi oleh puisi Abu Yazid.

Peneliti sufi yang lain, Anemmare Schimmel, menulis, “Sebagai seorang sufi, ia menonjol sendirian di kancah pemikiran tasawuf Iran masa awal. Pemikirannya yang paradoksal menawarkan makna baru, namun tidak bisa sepenuhnya dipahami kecuali bila pembaca mampu berbagi dalam pengalaman mistik. Atau sebaliknya, pembaca malah berbalik menuduh sebaliknya, pembaca malah berbalik menuduh bahwa paham Abu Yazid tipuan belaka..”
Apa pun pengalaman mistikus Ba Yazid (panggilan akrab Abu Yazid), bahwa kepribadiannya telah mengilhami para sastrawan sufi di zama sesudahnya. Bahkan namanya sempat pula dipuja dalam berbagai puisi. Prestasi ini hanya bisa ditandingi oleh sufi bear lainnya seperti Al-Hallaj, yang kemiripan ajarannya sering dikaitkan dengan Ba Yazid. Cuma sayang, ia tidak meninggalkan karya tulis. Ajaran dan pandangannya hanya dapat dibaca pada catatan murid-muridnya, atau para sufi yang pernah berjumpa dengannya.

Begitu besar pengaruh pribadi dan ajaran Ba Yazid, sehingga sampai kini pun ia masih di puja orang. dan makamnya selalu ramai diziarahi. Abu Yazid al-Bisthami wafat pada tahun 875 M bertepatan dengan 261 H, dan dimakamkan di kampung halamannya, Bistham.

Tentang Manusia Sejati
Banyak hal yang dapat kita pelajari dari Ba Yazid. Kisah-kisah yang unik banyak ditulis oleh para ulama klasik. Misalnya dalam kitab Tsabaqatush Shufiyah karya As-Sulami, Hilyatul Awliya, karya Abu Nu’aim, Kasyful Mahjub, karya Al-Hujwiri, Kitabul al-Luma, karya As-Sarraj atau Tadzkirul Awliya, karya Fariduddin Aththar.

Berikut beberapa cerita tentang Abu Yazid, suatu hari Dzun Nun al-Misri mengirimkan selembar sajadah kepada Abu Yazid, tetapi Abu Yazid mengembalikannya, sambil berpesan, “Apa perlunya selembar sejadah? Kirimkan saja sebuah bantal untuk bersandar.” Maksudnya, ingin mengatakan sudah berhasil mencapai tujuan. Maka, Dzun Nun pun mengirimkan sebuah bantal. Tetapi bantal itu pun dikembalikan, karena ia telah bertobat dan tubuhnya tinggal kulit pembalut tulang. “Manusia yang berbantalkan karunia dan kasih Allah tidak membutuhkan bantal dari salah seorang diantara hambanya,” kata Ba Yazid.

Suatu hari Abu Yazid berjalan-jalan disebuah pekuburan, suatu malam ketika pulang dari makam, ia berpapasan dengan seorang pemuda yang memainkan kecapi. “Semoga Allah melindungi kita!” kata Abu Yazid. Mendengar itu si pemuda memukulkan kecapi kekepala Abu Yazid dengan keras. Ternyata pemuda itu tengah mabuk. Dengan bercucuran darah Abu Yazid pulang.

Ketika hari telah siang, dipanggilnya salah seorang muridnya, “Berapakah harga sebuah Kecapi?” tanyanya. Si murid memberitahukan harganya, dengan secarik kain dibungkusnya sejumlah uang ditambah beberapa kue lalu dikirimkannya kepada si pemuda. “Sampaikanlah kepadanya, Abu Yazid minta maaf. Katakan pula, tadi malam ia menyerang Abu Yazid dengan Kecapinya sehingga kecapi itu pecah. Sebagai gantinya terimalah uang  ini dan belilah kecapi baru. Sedangkan kue-kue yang manis untuk penawar duka hatimu karena kecapimu pecah.” Ketika si pemuda itu menyadari perbuatannya, bersama pemuda-pemuda lain ia menemui Abu Yazid untuk minta maaf. Hanya kepada Allah
    Suatu saat, Abu Yazid bercerita, Ketika aku sedang duduk, datanglah sebuah lamunan, bahwa aku adalah Syekh dan tokoh suci zaman ini. Tapi begitu hal itu terdengar dalam benak, aku segera sadar bahwa aku telah melakukan dosa besar.lalu aku bangkit dan berangkat ke Khurasan, di sebuah persinggahan aku berhenti dan bersumpah tidak akan meninggalkan tempat sebelum

Allah mengutus seseorang untuk membukakan diriku. Tiga hari tiga malam aku tinggal di sana. Pada hari keempat aku lihat seseorang yang bermata satu yang menunggang seekor unta datang kepadaku. Aku lihat kebesaran Ilahi di dalam dirinya. Aku mengisyaratkan agar Unta berhenti, unta itu pun menekuk kakinya di depanku, dan lelaki bermata satu itu memandangku.

“Sejauh ini kau memanggilku hanya untuk membukakan mata yang tertutup dan membukakan pintu yang terkunci, serta untuk menenggelamkan penduduk Bustham bersama Abu Yazid?” katanya kepadaku.

Aku jatuh lunglai, kemudian bertanya kepada orang itu, “Darimanakah engkau?”

“Sejak engkau bersumpah itu, telah beribu-ribu mil jarak aku tempuh. Berhati-hatilah,

Abu Yazid, jagalah hatimu!” ia lalu berpaling dariku dan meninggalkan tempat itu.
Suatu malam Abu Yazid merasa shalatnya tidak khusuk. Maka katanya, “Carilah kalau-kalau ada barang-barang berhaga di rumah ini,” murid-muridnya pun mencari-cari di seantero rumah, lalu menemukan setengah tandan anggur, “Bawalah anggur itu, dan berikanlah kepada orang lain, rumahku bukan toko buah-buahan,” kata Abu Yazid. Setelah itu barulah ia dapat melakukan salat dengan khusuk.

Pada suatu hari beberapa orang bertanya kepada Abu Yazid, “Engkau dapat berjalan di atas air?” Abu Yazid pun menjawab, Sepotong kayu juga dapat melakukannya.”

Mereka bertanya lagi, “Engkau dapat pergi ke Mekkah dalam semalam?” maka jawab Abu Yazid,setiap orang sakit dapat melakukan perjalanan dari India ke Demavand dalam satu malam.”

Merasa penasaran, mereka bertanya lagi, “Jika demikian, apakah yang dilakukan oleh manusia sejati?” Abu Yazid menjawab. “Manusia sejati tidak akan menautkan hatinya kepada siapapun kecuali hanya kepada Allah.”

Riwayat As-Suhrawardi, Sufi Allah yang di pancung

RIWAYAT ISLAM

As-Suhrawardi, Sufi Allah yang di pancung

Di jagat tasawuf, dikenal sebuah paham yang disebut “Isyraq”. Paham ini meyakini, Allah adalah Nurus Samawati wal Ardi (cahaya langit dan Bumi) sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an surah An-Nur ayat 35. Dari Nur Allah itulah lahir cahaya-cahaya yang lain di alam semesta dan di jagat rohaniah. Paham ini juga dikenal sebagai paham Iluminatif (pencerah), dan terpengaruh oleh paham-paham Filsafat. Karena itu Prof. Dr. Hamka menyebutnya sebagai filsafat Isyraq.

As-Suhrawardi filsuf besar yang pertama kali mencetuskan paham Isyraq. Ada tiga sufi yang namanya mirip: As-Suhrawardi, Abu An-Najib As-Suhrawardi, dan Abu Hafs Syihabuddin As-Suhrawardi Al-Baghdadi, yang terakhir ini adalah pengarang kitab Awarif al-Maarif.

As-Suhrawardi yang nama aslinya Abul Futuh Yahya bin Habsyi bin Amrak, lahir di Suhrawardi, Zanda, Persia utara, pada 549 H / 1129 M. seperti Al-Hallaj, ia juga di bunuh oleh penguasa. Itu sebabnya ia dijuluki Al-Maqtul (yang terbunuh).

Suhrawardi lahir di lingkungan keluarga yang taat beribadah. Seperti halnya sufi atau ulama besar lainnya, sejak kecil ia juga belajar dasar-dasar ilmu agama, seperti Al-Qur’an dan fikih. Juga seperti sufi yang lain, catatan perjalanan kehidupannya sangat sedikit diketahui orang. Menurut pengamat sufi Mehdi Amin Razali, Suhrawrdi hidup di suatu zaman ketika muncul kebutuhan untuk menyatukan kembali ilmu pengetahuan Islam dengan memadukan berbagai mazhab. Ditengah perdebatan intelektual itulah muncul pemikiran Suhrawrdi tentang Isyraq, yang antara lain meyakini bahwa wacana filosofis merupakan bagian dari perjalanan spritual seseorang.

Dalam buku tokoh-tokoh sufi, tauladan dan kehidupan yang saleh, Prof. Dr. H. Ahmadi Isa MA, menulis, Suhrawardi terkenal sebagai pengembara yang gandrung menuntut ilmu. Ia berguru kepada sejumlah ulama dan pakar dalam berbagai ilmu pengetahuan. Di Marga Azarbaijan, Asia Tengah, ia belajar fikih dan filsafat kepada Syekh Majduddin Al-Jilli, seorang fukaha yang termasyhur kala itu. Di Isfahan, Iran, ia belajar Mantiq (logika) kepada Ibnu Shlan As-Sawi pengarang kitab Al-Basair An-Nasiriyah. Selain itu juga tercatat belajar filsafat India, Persia dan Yunani. Menurut seorang pengikutnya, pengetahuan Suhrawrdi sangat dalam, dan sangat menguasai ilmu hikmah alias filsafat dan fikih. Ia juga sangat fasih dalam ungkapan.

As-Suhrawrdi merintis perjalanan sufistisnya sejak bergabung dengan para sufi dalam kehidupan asketisnya. Beberapa tahun bergelut dengan ajaran-ajaran sufi, setelah itu ia mengembara mengunjungi sejumlah ulama dan pakar di Aleppo Damaskus, Anatolia, sampai ke Azarbaijan. Terakhir ia melakukan perjalanan ke Halb, belajar tasawuf kepada sufi besar As-Syafir Iftikharuddin.

Suhrawardi juga termasuk sufi besar yang produktif membukukan pikiran-pikirannya. Karya-karyanya yang dianggap monumental, antara lain, Hikmah al-Isyraq. Al-Muqawwamat dan Al-Mutaribat, salah satu kitab yang banyak diperbincangkan ialah Hikamh al-Isyraq. Memuat berbagai pandangannya perihal filsafat Isyraq atau Iluminatif. Karya-karyanya yang lain, rata-rata dalam sebuah kitab yang tipis, Hikayat An-Nur, Alwah wa Imadiyah. Partaw Nama, Fil I’tikad al-Hukama, Al-Lahamat, Bustan al-Qulub – sebagian besar di tulis dalam bahasa arab. Sementara karya-karyanya dalam bahasa Persia banyak dipuji sebagai karya sastra yang indah. Karya yang lain, diantaranya, Aqil Surkh, Awazi Par-I Jabarail, Al-Qissah Al-Ghurbah al-Gharbiyah, Lugati Muran, Risalah fil Hallah al-Tufuliyyah, Ruzi Ba Jamaah Sufiyan, Safir Simurg dan Risalah fi Mikraj.

Ada pula karya Suhrawardi, Risalah yang bersifat Filosofis, berupa terjemahan karya Ibnu Sina, berjudul Risalah Tayr, dan komentar mengenai karya Ibnu Sina dalam bahasa Persia, Isyraf wa Tanbihat. Juga sebuah risalah berjudul Risalah fi Haqiqah al-‘Isyq, didasarkan pada karya Ibnu Sina berjudul Risalah fil ‘Isyq. Ada juga karyanya yang memuat doa, dzikir, wirid, berjudul Al-Waridat wa Taqdisat.

Banyak pandangan As-Suhrawardi yang di ikuti para sufi, misalnya ucapannya yang terkenal, “Semua yang menyenangkan anda, seperti hak milik, perabotan dan kenikmtan duniawi, dan hal-hal yang serupa itu, lemaprkanlah. Jika resep ini anda ikuti, penglihatan anda akan tercerahkan.” Pandangan lain yang juga terkenal, “Ketika mata batin terbuka, mata lahir harus di tutup, bibir harus di kunci, dan lima indra lahir harus dibungkam. Indra batin hendaknya mulai berfungsi, sehingga jika ia mencapai sesuatu, melakukakannya dengan jasad batin, jika mendengar, dia mendengar dengan telinga batin.”

Salah satu peristiwa yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan Suhrawardi ialah saat kematiannya. Ia meninggal di tiang gantungan dalam sebuah upacara pengadilan yang digelar oleh Sultan Salahuddin Al-Ayyubi, dari dinasti Bani Saljuk – gara-gara ajarannya dianggap sesat. Di tengah kemasyhurannya sebagai seorang ulama tasawuf dan cendikiawan, pendapat-pendapatnya memang sering memancing kontroversi. Seperti pandangan-pandangan Al-Hallaj maupun Junaid Al-Baghdadi, pendapat Suhrawardi sering dianggap menyimpang sehingga memancing polemik yang berkepanjangan.

Sebelum di adili, ia dipanggil oleh pangeran Zahir bin Salahuddin Al-Ayyubi untuk mempertanggung jawabkan ajarannya dalam forum debat terbuka yang dihadiri Teolog dan Fukaha. Dalam debat itu, ia berhasil mempertahankan argumentasinya, sehingga pangeran Zahir pun memaafkannya, bahkan belakangan bersahabat dengannya, tapi akibatnya hal itu memancing rasa iri dan dengki.

Maka berseliweranlah fitnah dan hasutan ke alamat Suhrawardi. Bahkan ada yang sempat yang mengirim surat ke Sultan Shalahuddin yang memperingatkan perihal “Kesesatan” ajaran Suhrawardi. Celakanya sang Sultan malah memerintakan Pangeran Zahir putranya, agar menghukum Suhrawardi. Zahir segera menggelar sidang, membicarakan hukuman bagi sang sufi, keputusan pun jatuh: Suhrawardi di jatuhi hukuman pancung. Itu terjadi pada tahun 587 H / 1167 M. ketika Suhrawardi berusia 38 tahun. Mungkin karena ia korban persekongkolan politik, makamnya pun tidak diketahui.

Tapi, justru karena hukuman itu nama Suhrawardi semakin melejit, masyarakat menggelarinya dengan sebutan Al-Maqtul (tokoh yang terbunuh). Ia memang telah dibunuh, jasadnya telah dibuang, tapi pikiran-pikirannya yang cemerlang tetap hidup hingga kini, bahkan sepanjang zaman.

Sumber Kisah Alkisah Nomor 06 / 14-27 Maret 2005

Riwayat Hidup Al-Hallaj

Seperti Socrates – fisuf besar Yunani sekian abad sebelum masehi yang harus mati minum racun, Al-Hallaj juga tokoh besar dan filsuf yang dihukum mati karena mempertahankan pendapat dan ajarannya. Mereka sama-sama meninggalkan banyak legenda yang masih dibicarakan orang hingga kini. Lebih penting lagi ialah pemikiran dan gagasan-gagasannya yang brilian. Sudah ratusan buku yang membahas kedua tokoh ini.

Dalam dunia sufi, Al-Hallaj mempunyai kisah tersendiri. Pemikirannya tentang Wahdatul Wujud, yaitu paham yang meyakini bahwa seseorang mampu meleburkan diri ke dalam Dzat Allah, meninggalkan banyak kontroversi. Bahkan sampai sekarangpun perdebatan tentang hal itu belum juga reda.

Selain itu Al-Hallaj juga sangat piawai dalam mengemukakan pengalaman spritualnya. Ia bahkan cenderung ekstrim. Jargonnya yang terkenal; Ana al-Haq (aku adalah Tuhan),masih terus menjadi bahan perbincangan yang tiada habis sampai sekarang.

Ia lahir dengan nama Abu Al-Mugis Al-Husain ibnu Mansur al-Baidlawi  pada 858 M / 244 H di Baida, di Provinsi Fars, Iran. Masa remajanya dihabiskan di Kota Tustar, belajar pada Sahal ibnu Abdullah At-Tustari, sufi besar yang terkenal di Tustar. Ketika usianya menginjak 18 tahun, ia pergi ke Basrah, lalu ke Baghdad, ia berguru kepada beberapa guru spritual, seperti Syekh Abdul Husain al-Nurim Syekh Junaid Al-Bagdadi, dan Syekh Amru ibn Usman Al-Makki.

Ketika berguru pada Al-Makki itulah ia mulai mendapat pemahaman tentang Wahdatul Wujud, dan sejak itu ia banyak melontarkan ucapan-ucapan yang kontroversial. Padahal beberapa gurunya sudah berkali-kali melarangnya. Tapi sia-sia. Itu sebabnya ia memilih meninggalkan perguruannya di Basrah, dan kembali ke Baghdad. Di Ibu kota Irak ini ia masuk kembali ke perguruan milik Syekh Junaid Al-Baghdadi. Tapi di sini ia kembali melontarkan ucapan-ucapan yang mengungkapkan rahasia ke-Tuhan-an, walaupun sudah dilarang oleh gurunya.

Meski bagi banyak orang dianggap nyeleneh, Al-Hallaj juga berdakwah. Bahkan ia tidak tanggung-tanggung dalam berdakwah. Misalnya berdakwah sambil mengembara, dari Ahwaz, Khurasan, Turkistan, keluar dari Irak, sampai ke India. Hebatnya dimanapun ia berada selalu elu-elukan karena ilmu agamanya yang tinggi. Kepiawaiannya inilah yang menjadikannya mempunyai banyak pengikut yang balakangan disebut kelompok al-Hallajiyah. Mereka memandang Al-Hallaj sebagai waliyullah yang memiliki kekeramatan.

Dalam beberapa catatan sejarah disebutkan, Al-Hallaj adalah seorang sufi yang sangat tekun beribadah. Dalam ibadahnya yang khusyu’ ia sering mengungkapkan rasa Syathahat, yaitu ungkapan-ungkapan yang kedengarannya ganjil. Hal itu terjadi ketika ia tenggelam dalam Fana, suatu tingkatan kerohanian ketika kesadaran tentang segala sesuatu sirna kecuali hanya kesadaran tentang Allah SWT.

Dari sinilah muncul ungkapan An al-Haq – yang oleh Al-Hallaj ditafsirkan bahwa  “Aku berada di dalam Dzat Allah.” Bayak ahli tasawuf menafsirkan, ungkapan itu sebenarnya tidak dimaksudkan bahwa dirinya adalah Tuhan. Hal itu tampak dalam sebuah pernyataan, “Aku adalah rahasia Yang Maha Benar, bukanlah Yang Maha Benar Itu Aku. Aku hanyalah satu dari yang benar. Maka bedakanlah antara aku dan Dia.”

Ia menulis sejumlah kitab dan bait-bait puisi. Dalam legenda Muslim, ia adalah prototipe pencinta yang mabuk kepayang kepada Allah.
Husain ibnu Manshur, yang dijuluki Al-Hallaj (penyortir wol), awalnya pergi menuju Tustar, di sana menjadi pelayan Sahl ibnu Abdullah selama dua tahun, kemudian setelah itu ia bertolak ke Baghdad.

Ia memulai pengembaraannya pada usia 18 tahun. Setelah itu ia pergi Bashrah dan bergabung dengan Amr ibnu Ustman, sampai delapan belas bulan bersamanya. Ia menikah dengan putri Ya’qub Al-Aqta’. Karena pernikahannya dengan Putri Ya’qub itulah membuat Amr ibnu Ustman menjadi tidak senang terhadap Al-Hallaj.
Karena itulah Al-Hallaj pergi meninggalkan Bashrah menuju Baghdad. Di sana ia menemui Junaid. Junaid memberikan syarat kepada Al-Hallaj, bahwa ia harus diam dan mengasingkan diri.

Setelah beberapa lama ia bersama Junaid, ia melanjutkan perjalanannya menuju Hijaz. Ia tinggal di Makkah selama satu tahun. Setelah itu ia kembali lagi ke Baghdad. Bersama sekelompok sufi ia sering menghadiri majelis Junaid dan sering mengajukan pertanyaan kepada Junaid, namun Junaid tidak menjawabnya.

Ketika Junaid menolak menjawab pertanyaan-pertanyaannya, Al-Hallaj merasa kesal dan tanpa pamit ia pergi menuju Tustar. Di sana ia tinggal selama satu tahun dan diterima dengan hangat oleh masyarakat, namun  karena ia sering merendahkan doktrin yang berlaku di tengah masyarakat saat itu, para ulama ulama pun akhirnya merasa jengkel lalu menentangnya.

Al-Hallaj pun sebenarnya sudah jemu dengan tempat itu. Ia lalu mencoba menanggalkan jubah sufinya, dan mengenakan jubah orang kebanyakan, dan menghabiskan hari-harinya bersama orang-orang kebanyakan (duniawi).
Namun upaya ini tidak membawa perubahan apa-apa bagi dirinya. Setelah itu ia menghilang selama lima tahun. Sebagian ia habiskan waktunya di Khurasan, dan Transoxiana, sebagian lagi di Sistan.

Al-Hallaj kemudian kembali ke Ahwaz. Di sana khotbah-khotbahnya mendapat dukungan dari kaum elite dan masyarakat kebanyakan. Ia sering berkhotbah tentang rahasia-rahasia manusia, sehingga ia dijuluki sebagai “Al-Hallaj Sang Rahasia.”

Setelah masa itulah ia mengenakan jubah Darwis yang compang camping lagi dan pergi menuju ke tanah Haram, bersama sekelompok orang dengan pakaian yang serupa. Saat ia tiba di Makkah, Ya’qub Al-Nahrajuri menuduhnya sebagai tukang sihir.

Karena tuduhan itulah ia kembali lagi ke Bashrah, lalu ke Ahwaz.

“Sekarang aku akan pergi ke negeri-negeri kaum Polities, untuk menyeru manusia kepada Allah,” tuturnya.

Ia pun pergi ke India, Transoxiana, lalu ke Cina., menyeru manusia kepada Allah dan banyak menulis kitab untuk mereka.

Saat ia kembali dari pengembaraannya ke daerah-daerah itu, masyarakat di daerah-daerah tersebut menulis surat untuknya.

Orang-orang India memanggilnya Abul Mughis, masyarakat Cina menjulukinya Abul Mu’in, mereka yang di Khurasan mengenalnya sebagai Abul Muhr, orang-orang Parsi memanggilnya Abu Abdullah, masyarakat Khusiztan menjulukinya Al-Hallaj, sang Rahasia, di Bahgdad ia dijuluki sebagai Mustalim, sedangkan di Bashrah ia dikenal sebagai Mukhabbar.

Sekembalinya dari Makkah yang kedua kalinya, keadaannya telah banyak berubah. Ia adalah seorang “manusia baru”, menyeru manusia kepada kebenaran dengan menggunakan istilah-istilah yang sama sekali tidak dipahami oleh seorangpun. Karena itulah, diriwayatkan bahwa ia telah di usir dari lima puluh kota.

Dalam keadaan yang membingungkan seperti itulah, masyarakat terbelah menjadi dua kelompok berkaitan dengan Al-Hallaj, ada yang pro pada pendapatnya, dan ada banyak yang menentangnya. Walaupun mereka banyak yang menyaksikan keajaiban-keajaiban yang dilakukan oleh Al-Hallaj.

“Katakanlah, Dialah Kebenaran,” teriak mereka kepadanya.

“Ya, Dialah segalanya,” jawab Al-Hallaj. “Kalian mengatakan bahwa Dia hilang (tak dapat diindrai). Sebaliknya Husainlah (maksudnya dirinya) yang hilang (fana). Lautan tak akan surut ataupun lenyap.”

Masyarakat melapor kepada Syekh Junaid, “kata-kata Al-Hallaj mengandung makna esoteris.”

“Biarkan ia dieksekusi,” jawab junaid. “Sekarang ini bukanlah saat yang tepat bagi makna-makna esoteris.”

Ia dipenjara oleh Khalifah selama satu tahun. Namun selama dalam tahanan itu, masyarakat sering menjenguk dan menemuinya untuk mengkonsultasikan masalah-masalah mereka. Akhirnya mereka dilarang untuk mengunjungi Al-Hallaj. Setelah itu selama lima bulan tak ada seorangpun yang menemuinya, kecuali Ibnu Atha’ dan Ibnu Khafif.

Pada suatu kesempatan, Ibnu Atha’ mengirimkan pesan kepada Al-Hallaj. “Wahai Syekh, mintalah maaf atas segala ucapanmu agar engkau bisa bebas.”
Al-Hallaj menjawab, “Suruh ia yang mengatakan hal ini untuk meminta maaf.”
Ibnu Atha’ menangis saat mendengar jawaban ini. “Kita bahkan tidak memiliki secuil pun derajat dibanding dengan Al-Hallaj.” Katanya.

Diriwayatkan, pada malam pertama ia dipenjara, para sipir datang ke selnya, namun tidak menemukannya di sana. Mereka mencarinya ke seluruh sudut sel, namun ia tetap tidak ditemukan.

Pada malam kedua, mereka juga tidak menemukan baik Al-Jallaj maupun selnya.

Pada malam ketiga, mereka menemukannya berada di dalam selnya.

Para sipir itu bertanya, “Dimana engkau pada malam pertama, dan dimana engkau bersama sel ini di malam kedua? Kini engkau di sel ini kembali, tanda-tanda apa ini?”

Ia menjawab, “Di malam pertama, aku berada di dalam-Nya, karena itulah aku tidak berada di sini. Pada malam kedua, Dia berada di sini, maka aku dan sel ini pun tiada. Di malam ketiga, aku dikirim kembali, agar hukum dapat ditegakkan, ayo lakukan tugas kalian!”

Saat Al-Hallaj masuk penjara itu, ada tiga ratus orang tahanan lain di sana. Malam itu ia menyapa mereka, “Wahai para tahanan, maukah kalian aku bebaskan?”

“Mengapa tidak engkau bebaskan saja dirimu sendiri?” Tanya mereka.

“Aku adalah tahanan Allah, aku adalah pengawal keselamatan,” jawabnya. “Jika engkau mau, aku dapat melepaskan semua belenggu dengan satu isyarat.”

Al-Hallaj membuat satu isyarat dengan jari telunjuknya, dan semua belenggu mereka pun terbuka, hancul lebur.

“Sekarang bagaimana kita bisa pergi? Tanya para tahanan itu. “Karena pintu sel terkunci.”

Al-Hallaj membuat satu isyarat lagi, dan tembok penjara pun jebol.

“Sekarang pergilah kalian,” pekiknya.

“Engkau tidak ikut?” Tanya mereka.

“Tidak,” jawabnya. “Aku punya sebuah rahasia dengan-Nya yang hanya bisa diungkapkan di tiang gantungan.”

“Keesokan harinya para sipir bertanya padanya, “Kemana perginya para tahanan lainnya?”

“Aku telah membebaskan mereka,” jawab Al-Hallaj dengan santainya.

“Mengapa engkau tidak ikut pergi?” tanya mereka.

“Allah punya alasan untuk mencemoohku, maka aku tidak pergi,” jawabnya.
Kejadian di penjara ini dilaporkan kepada Khalifah. “Akan ada kerusuhan,” pekik Khalifah. “Bunuh dia, atau cambuk dia dengan tongkat sampai dia menarik kembali ucapannya.”

Mereka mencambuknya dengan tongkat sebanyak tiga ratus kali. Setiap kali cambuk mendera tubuhnya, sebuah suara ghaib berkata, “Jangan takut, wahai Ibnu Manshur!”

Kemudian mereka membawanya keluar untuk disalib. Dengan tiga belas belenggu yang berat di tubuhnya, Al-Hallaj melangkah dengan tegap sepanjang jalan, sambil melambaikan tangannya seperti seorang pengembara.

“Mengapa engkau berjalan dengan begitu pongah?” Mereka bertanya.

“Karena aku tengah berjalan menuju pejagalan,” jawabnya. sambil melantunkan bait-bait syait:

kekasihku tak bersalah

diri-Nya aku anggur terbaik seperti Dia
laksana tuan rumah yang ramah,

melayani tamunya.

Dan kala perjamuan telah berakhir,

Dia menghunus pedang dan kafan pun di gelar-Nya,

Itulah takdir,

Bagi ia yang meneguk anggur lama,

Di musim panas bersama singat tua.


Menurut Al-Hallaj, Allah SWT menciptakan menusia menurut bentuk-Nya, dalam pengertian bahwa, kendati manusia adalah makhluk dan bukan Tuhan, manusia mempunyai tabiat kemanusiaan  yang menyerupai tabiat ketuhanan Allah SWT.

Dengan kata lain, tabiat kemanusiaan adalah tabiat ke-Tuhan-an yang tidak sempurna, sedangkan tabiat ketuhanan Allah SWT Maha Sempurna, suci dari kekurangan. Banyak sufi se zamannya yang berbicara seperti itu, misalnya Syekh As-Syibli, yang bahkan dianggap gila. Lain halnya dengan AL-Hallaj, ia tidak dianggap gila, tapi orang waras yang bijak.

Banyak kisah menarik di sekitar Al-Hallaj, terutama pergaulannya dengan Junaid Al-Bagdadi. Pada suatu hari Syekh Junaid berkata, “Hai, Mansur (Al-Hallaj) tak lama lagi suatu titik dari sebilah papan akan diwarnai oleh darahmu!” maka sahut Al-Hallaj, “Benar, tapi engkau juga akan melemparkan pakaian kesufianmu dan mengenakan pakaian Maulwi Ana Al-Haq.”  Dan ternyata dua ramalan itu menjadi kenyataan. Pada suatu hari Al-Hallaj benar-benar dirangsang oleh “Api cinta Ilahiyah” dan kembali meneriakkan “Ana al-Haq” tanpa henti.

Para guru dan teman-temannya seperti Syekh Junaid dan As-Syibli, menasihati dia agar menahan diri. Namun ia tidak mempan oleh teguran itu. Al-Hallaj terus saja mengulang seruannya, “Ana Al-Haq,” setiap saat. Gara-gara itulah, kaum ulama syariat bangkit melawan Al-Hallaj, didukung oleh Hamid bin Abbas, Perdana Menteri Irak. Dan akhirnya keluarlah “Fatwa Kufur”, yang menyatakan bahwa Al-Hallaj melanggar ketentuan agama dan dapat dihukum mati.

Tapi ketika hukuman itu disampaikan untuk mendapat persetujuan Khalifah Muqtadir Billah menolaknya, kecuali fatwa tersebut di tanda tangani oleh Syekh Junaid Al-Bagdadi, maka Khalifah Muqtadir pun mengirimkan fatwa itu kepada Syekh Junaid – sampai enam kali. Pada kiriman yang ke tujuh, Syekh Junaid membuang pakaian kesufiannya lalu memakai pakaian keulamaan. Setelah itu ia menulis pada surat jawaban: menurut hukum syariat, Al-Hallaj dapat di jatuhi hukuman mati, tapi menurut ajaran rahasia kebenaran, Allah Maha Tahu!.

Maka Al-Hallaj pun ditangkap pada tahun 913 M / 309 H. ia ditahan dan dijebloskan kedalam penjara. Para ulama pro pemerintah menuduhnya sering mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang tidak sesuai dengan syariat. Bahkan ia dituduh berkomplot dengan kelompok perusuh Qaramithah yang mengancam kedaulatan Bani Abbasiyah. Maka Al-Hallaj pun dihukum mati dengan cara disalib.

Saat mereka membawa Al-Hallaj ke tiang gantungan di Bab al-Taq, ia mencium kayunya dan menaiki tangganya sendiri.

“Bagaimana perasaanmu?” Tanya mereka.

“Mi’rajnya seorang kasatria adalah di tiang gantungan,” jawabnya.

Ia mengenakan celana sebatas pinggang dan mantel di bahunya. Sambil menghadap ke arah kiblat, ia menengadahkan kedua tangannya dan mulai bercengkrama dengan Allah.

“Apa yang diketahui-Nya, tak seorang pun mengetahuinya,” katanya. Lalu ia pun naik ke tiang gantungan.

Sekelompok orang pengikutnya bertanya, “Bagaimana menurutmu, mengenai kami yang merupakan para pengikutmu, dan mengenai mereka, yang hendak merajammu?”

“Mereka mendapat dua pahala, sedangkan kalian satu,” jawabnya. Kalian hanya berprasangka baik padaku, sedangkan mereka digerakkan oleh kekuatan keimanan terhadap Allah untuk menjaga kelurusan hukum-Nya.”

Kemudian As-Syibli mendekat dan berdiri di hadapannya sambil berkata, “Bukankah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?” pekiknya. Lalu ia bertanya, “Wahai Al-Hallaj, apa itu sufisme?”

Al-Hallaj menjawab, “Yang engkau lihat ini adalah derajat terendahnya.”

“Lalu apa yang lebih tinggi daripada ini?” tanya As-Syibli.

“Yang tak dapat engkau capai,” jawab Al-Hallaj.

Orang-orang mulai melempari Al-Hallaj dengan batu. Sedangkan As-Syibli, demi menyesuaikan diri, melempar segumpal tanah. Al-Hallaj merintih.

Mereka bertanya, “Engkau tidak merintih saat dilempar dengan batu-batu itu. Tapi mengapa engkau merintih sewaktu terkena lemparan segumpal tanah?”

“Karena mereka yang melemparku dengan batu tidak mengetahui apa yang mereka lakukan. Mereka punya alasan. Sedangkan ia yang melempar gumpalan tanah itu, ia mengetahui bahwasanya tidak seharusnya ia melakukan itu kepadaku. Itulah yang menyakitkanku.”

Kemudian mereka memenggal kedua tangannya, Al-Hallaj pun tertawa.

“Mengapa engkau tertawa?” pekik mereka.

“Sungguh mudah memenggal kedua tangan orang seseorang yang terbelenggu,” jawabnya. “Namun dibutuhkan seorang kasatria untuk memenggal tangan-tangan segenap sifat yang melepaskan mahkota cita-cita dari dahi-Nya.”

Mereka memotong kedua kakinya. Ia pun tersenyum.

“Dengan kedua kaki ini, aku melakukan perjalanan duniawi,” katanya. “Dengan dua kaki lainnya yang kupunya, aku bahkan bisa berjalan di dua alam (dunia dan akhirat). Jika kalian mampu, potonglah kedua kaki itu!”

Lalu ia mengusapkan kedua tangannya yang bunting ke wajahnya, sehingga lengan dan wajahnya berlumuran darah.

Mereka bertanya, “Mengapa engkau melakukan itu?”

“Aku telah kehilangan banyak darah,” jawabnya. “Aku sadar bahwa wajahku telah memucat. Kalian menyangka bahwa pucatnya wajahku disebabkan oleh ketakutanku. Maka kuusapkan darah ke wajahku agar pipiku tampak semerah mawar di mata kalian. Riasan para ksatria adalah darah mereka.”

“Lalu mengapa engkau juga melumuri lenganmu dengan darah?”

“Aku tengah berwudhu.”

“Wudlu untuk apa?”

“Saat seseorang hendak mendirikan shalat dua rakaat dalam cinta,” jawab Al-Hallaj. “Wudlunya belum sempurna bila tidak dilakukan dengan darah.”

Kemudian mereka mencungkil kedua bola matanya. Raungan terdengar di antara kerumunan orang. Sebagian menangis, sebagian melempar batu. Lalu mereka hendak memotong lidahnya.

“Sabarlah sedikit, beri aku waktu untuk mengutarakan sepatah-dua patah kata,” ujarnya. “Ya Allah, pekiknya sambil menengadahkan wajahnya ke langit. “Janganlah engkau usir mereka dari haribaan-Mu lantaran apa yang mereka lakukan padaku karena Engkau. Jangan pula Engkau cabut kebahagiaan ini dari mereka. Segala puji bagi Allah, karena mereka memotong kedua kakiku saat aku tengah meniti jalan-Mu. Dan jika mereka memenggal kepalaku, sungguh mereka telah mengangkatku ke tiang gantungan, merenungkan keagungan-Mu.”

Sebelum dihukum mati, ia shalat dan berdoa, “Ya Allah, mereka adalah hamba yang berhimpun untuk membunuhku, karena fanatik kepada agama-Mu dan hendak mendekatkan diri kepada-Mu. Maka ampunilah dan berilah rahmat kepada mereka. Karena jika engkau membuka hati mereka, seperti engkau membuka hatiku, mereka tidak akan melakukan seperti yang sedang mereka lakukan terhadapku. Dan jika engkau tutup hatiku seperti engkau menutup hati mereka, niscaya aku tidak akan diperlakukan seperti ini.”

Kemudian mereka memotong daun telinga dan hidungnya. Seorang yang membawa kendi kebetulan hadir di sana. Melihat Al-Hallaj, ia memekik, “Penggal, penggal dengan keras dan benar! Apa urusannya ia bicara tentang Tuhan?”

Kata-kata terakhir yang diucapkan Al-Hallaj adalah “Cinta-Nya adalah pengasingan-Nya.” Kemudian ia membaca sebuah ayat: “Orang-orang yang tidak beriman kepada hari kiamat meminta supaya hari itu segera didatangkan, dan orang-orang yang beriman merasa takut padanya dan mereka yakin bahwa kiamat itu adalah benar (akan terjadi).”

Itulah kata-kata terakhirnya. Kemudian mereka memotong lidahnya. Baru ketika shalat maghrib tiba mereka memenggal kepalanya. Bahkan saat mereka memenggal kepalanya, Al-Hallaj tersenyum, lalu setelah itu ia meninggal dunia.

Tangisan membahana dari kerumunan orang. Al-Hallaj telah membawa bola takdir ke batas medan tawakal. Tiap potongan tubuhnya menyerukan, “Akulah Kebenaran.”

Keesokan harinya mereka mengatakan, “masalah ini akan bertambah buruk ketimbang saat ia hidup.”

Maka mereka pun membakar jasadnya. Dari abunya pun terdengar seruan, “Akulah Kebenaran.” Bahkan pada saat pembantaiannya, tiap tetes darahnya membentuk nama Allah”.

Mereka tercengang melihat semua itu, lalu mereka membuang abunya ke Sungai Tigris. Abunya mengambang di permukaan sungai Tigris dan terus menyerukan,

“Akulah kebenaran.”

Sebelum dieksekusi Al-Hallaj telah berpesan kepada pembantunya, “Saat mereka membuang abu jasadku ke Sungai Tigris, Baghdad akan terancam tenggelam. Hamparkanlah jubahku di sungai, kalau tidak, Baghdad akan hancur.”

Pembantunya, saat melihat apa yang terjadi, membawa jubah Al-Hallaj dan menghamparkannya di tepi Sungai Tigris. Air pun surut dan abu Hallaj pun diam. Kemudian mereka mengumpulkan abunya dan menguburkannya.

Kematian Al-Hallaj merupakan kehilangan besar sekaligus noda hitam dalam dunia tasawuf. Namun pemikirannya tetap hidup terus, tak lekang oleh ruang dan waktu.

Sumber kisah Al-Kisah Nomor 16 . 2 –15 Agt 2004

Nuruddin Abdurrahman Al-Jami

RIWAYAT ISLAM

Nuruddin Abdurrahman Al-Jami. Dia adalah satu di antara sejumlah orang genius dari negeri Persia. Lahir di Kharjad pada 1414 M (817 H) dan wafat di Heart pada 1492 M (898 H). Sebelum populer dengan sebutan Al-Jami, dia bergelar Ad-Dasyti, karena ayahnya, Nizamuddin, berasal dari Dasyt, dekat Kota Isfahan. Sejak berusia muda, Al-Jami sudah menunjukkan sifatnya yang istimewa. Ia mudah menguasai pelajaran yang diberikan kepadanya. Ia pandai berbicara dan berargumentasi. Salah satu di antara para ulama yang pernah menjadi guru atau pembimbingnya adalah Syekh Sa’aduddin Al-Kasygari, murid sekaligus Khalifah Syekh Bahaudiin Naqsyabandi. Berkat potensinya yang besar dan ketekunannya belajar dan menulis, ia berkembang menjadi sufi besar dan sekaligus menjadi penyair besar yang berpengetahuan luas.

Kebesaran dan kemasyhuran nama Al-Jami tidak hanya bergema di kawasan Persia, tetapi juga mencapai Turki Usmani. Disebutkan pada suatu waktu ia berada di Damaskus, mencari utusan Sultan Turki Usmani yang bermaksud mengundangnya ke Istana dan telah menyiapakan hadiah baginya. Karena tidak tertarik pada undangan itu, Al-Jami segera meninggalkan Kota Damaskus.

Para sarjana masih bisa melihat kebesaran Al-Jami melalu karya-karya tulisnya yang menurut satu sumber berjumlah 46 buah, tapi menurut sumber lain tidak kurang dari 90 buah buku dan risalah. Kebanyakan karya tulisnya berbicara dalam bidang tasawuf, tapi bidang-bidang lain juga tidak luput dari perhatiannya. Ia menulis komentar tafsir atas sejumlah surah dalam Al-Qur’an, komentar terhadap 40 hadis dan hadis-hadis yang riwayatkan oleh Abu Dzar Al-Ghifari

Karya-Karyanya
Ia menulis tentang biografi Nabi Muhammad, bukti-bukti tentang kenabiannya, tentang biografi para sufi dan pengajaran mereka tentang para penyair, raja-raja, puisi, Musik, dan tata bahasa Arab. Di antara karyanya, yang berbentuk prosa adalah Nafahat Al-Uns (hadiah-hadiah persahabatan), yang menyajikan biografi dan pengajaran para sufi. Juga Lawami’ (percikan cahaya-cahaya), yang merupakan komentar terhadap karya Ibnu Arabi.

Kendati kemasyhuran Al-Jami’ lebih bersandar pada kehadirannya sebagai penyair besar, perannya sebagai juru bicara tasawuf aliran Wahdatul Wujud, manunggaling Kawula Gusti, bersatunya Makhluk-Khalik, tidak kalah pentingnya. Satu di antara banyak masalah tasawuf yang dijelaskan oleh AL-Jami’ adalah masalah yang berkaitan dengan manusia. Menurutnya, Nafs atau jiwa manusia, sebagai unsur atau prinsip yang menghidupkan tubuh manusia, memiliki potensi untuk mencapai sejumlah tahap kesempurnaan yang berbeda. Dengan melewati tahap demi tahap, jiwa itu akan semakin dekat dan menyatu dengan Tuhan.



Tingkatan Jiwa
Jiwa pada tahap paling rendah disebut Nafs Amarat, yakni nafs yang terus menerus mendorong kepada hal-hal yang buruk dan rendah. Setelah melalui latihan spritual, jiwa meningkat menjadi Nafs Lawwamat, yakni jiwa yang mampu mencela kekurangan-kekurangan dirinya sendiri. Bila di tingkatkan lagi, jiwa itu akah sampai kepada puncak kesempurnaannya, itulah Nafs Mutmainnat, yakni jiwa yang tentram, damai, dan bahagia. Manusia yang memiliki jiwa yang sempurna itu disebut juga manusia sempurna atau Insan Kamil.

Mengenai manusia sempurna ini, Al-Jami’ sebenarnya memberikan penjelasan  yang cukup panjang. Manusia sempurna dalam kajian penganut Wahdatul Wujud bukan saja mengacu pada sejumlah kecil individu yang pernah hidup dimuka bumi ini dan memiliki jiwa yang paling sempurna namun juga mengacu pada ciptaan  Allah yang pertama, yang bersifat Spritual dan merupakan bentuk awal segenap alam semesta.

Dari banyak munajatnya yang indah kepada Allah, dia berkata, “Ya Rabbi, ya Tuhanku, jauhkanlah kami dari perbuatan menghabiskan waktu untuk perkara-perkara kecil yang tidak berguna. Tunjukkanlah kepada kami segala perkara menurut hakekatnya. Angkatlah dari batin kami selubung ketidaksadaran. Janganlah diperlihatkan kepada kami barang yang tidak nyata sebagai barang yang ada.

Janganlah Kau biarkan bayang-bayang menutup batin kami, sehingga kami tidak dapat melihat keindahan-Mu. Jadikanlah bayang-bayang ini sebagai kaca yang melalui batin kami untuk menyaksikan-Mu.”

Pada bagian lain dia berkata, “Sang kekasih menyeru dari kedai minuman, datanglah lalu berilah aku anggur cinta, cawan demi cawan. Kubebaskan diriku dari belenggu logika dan nalar. Lalu kumulai meratap dan menangis untuk bersatu.”
Dalam tahun terakhirnya ia melihat visi tentang kematiannya, dan sering melantunkan bait syair berikut:

Adalah memalukan

Bahwa hari-hari berlalu tanpa kita

Bunga-bunga akan mekar dan musim semi akan tiba

Musim panas, musim dingin, dan musim semi

Akan berlalu

Dan kita pasti akan menjadi tanah dan debu.

Tahu Kematiannya
Beberapa hari sebelum kematianya, Al-Jami’ mengunjungi beberapa desa tetangganya. Sekali waktu ia pergi ke sebuah desa yang tidak diperhatikannya secara khusus, meskipun ia tinggal di sana cukup lama. Murid-muridnya yang merasa khawatir segera pergi kesana. Ia berkata kepada mereka, “Kita harus memutuskan tali Ikatan.”
Tiga hari sebelum kematiannya, ia memanggil beberapa murid dekatnya dan berkata kepada mereka, “Jadilah saksiku bahwa aku sama sekali tidak punya ikatan dengan apapun dan dengan siapa pun.”

Pada hari jumat pagi, ketika fajar menyingsing, ia merasa bahwa kematiannya akan tiba. Ia melakukan salat dan kemudian duduk melakukan dzikir. Di tengah hari ia pun wafat.

Ada sebuah kisah jenaka dituturkan mengenai saat kematian Al-Jami’.

“Para sufi yang sangat sedih mengetahui bahwa ia akan segera wafat, berkumpul di rumahnya, sebagian menangis pelan-pelan, sementara sebagian yang lain sibuk melantunkan dzikir, tetapi ada salah seorang yang membaca Al-Qur’an dengan suara keras dan mengganggu yang lain, akhirnya Al-Jami’ mengangkat kepala dan berkata,

“Demi Allah aku akan mati jika engkau tidak menghentikan keributanmu!”
Sebagai seorang penulis serba bisa, ia meninggalkan warisan berupa 81 buku tentang berbagai macam pokok bahasan. Diantaranya, koleksi puisi, uraian atas karya-karya Ibnu Arabi dan Haft Aurang, sebuah koleksi tujuh kisah dalam bentuk Matsnawi, kumpulan puisi.

Dari ketujuh cerita itu yang paling terkenal adalah kisah Yusuf dan Zulaikha. Episode tentang penggodaan atas Yusuf, oleh istri majikannya yang bernama Zulaikha, menjadi kisah cinta yang sangat menyentuh.

Sumber Bacaan: Alkisah Nomor 19 / 12-25 September 2005

Riwayat Syaikh Abdul Qodir Al-Jaelani

Jumlah karomah yang dimiliki oleh  Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani  banyak sekali. Syaikh Abil AbbasAhmad ibn Muhammadd ibn Ahmad al-Urasyi al-Jily:
Pada suatu hari, aku telah menghadiri majlis asy-Sayikh Abdul Qodir al-Jilani berserta murid-muridnya yang lain. Tiba-tiba, muncul seekor ular besar di pangkuan asy-Syaikh. Maka orang ramai yang hadir di majlis itu pun berlari tunggang langgang, ketakutan. Tetapi asy-Syaikh al-Jilani hanya duduk dengan tenang saja. Kemudian ular itu pun masuk ke dalam baju asy-Syaikh dan telah merayap-rayap di badannya. Setelah itu, ular itu telah naik pula ke lehernya. Namun, asy-Syaikh masih tetap tenang dan tidak berubah keadaan duduknya.

Setelah beberapa waktu berlalu, turunlah ular itu dari badan asy-Syaikh dan ia telah seperti bicara dengan asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani . Setelah itu, ular itu pun ghaib.

Kami pun bertanya kepada asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani tentang apa yang telah dipertuturkan oleh ular itu. Menurut beliau ular itu telah berkata bahwa dia telah menguji wali-wali Allah yang lain, tetapi dia tidak pernah bertemu dengan seorang pun yang setenang dan sehebat asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani .

Pada suatu hari, ketika asy-Syaikh sedang mengajar murid-muridnya di dalam sebuah majlis, seekor burung telah terbang di udara di atas majlis itu sambil mengeluarkan satu bunyi yang telah mengganggu majlis itu. Maka asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani pun berkata, “Wahai angin, ambil kepala burung itu.” Seketika itu juga, burung itu telah jatuh ke atas majlis itu, dalam keadaan kepalanya telah terputus dari badannya.

Setelah melihat keadaan burung itu, asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani pun turun dari kursi tingginya dan mengambil badan burung itu, lalu disambungkan kepala burung itu ke badannya. Kemudian asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani telah berkata, “Bismillaahirrahmaanirrahim.” Dengan serta-merta burung itu telah hidup kembali dan terus terbang dari tangan asy-Syaikh. Maka takjublah para hadirin di majlis itu karena melihat kebesaran Allah yang telah ditunjukkanNya melalui tangan asy-Syaikh.

Telah diceritakan di dalam sebuah riwayat: Pada suatu hari, di dalam tahun 537 Hijrah, seorang lelaki dari kota Baghdad (dikatakan oleh sesetengah perawi bahawa lelaki itu bernama Abu Sa‘id ‘Abdullah ibn Ahmad ibn ‘Ali ibn Muhammad al-Baghdadi) telah datang bertemu dengan asy-Syaikh Jilani, berkata, bahwa dia mempunyai seorang anak dara cantik berumur enam belas tahun bernama Fatimah. Anak daranya itu telah diculik (diterbangkan) dari atas anjung rumahnya oleh seorang jin.

Maka asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani pun menyuruh lelaki itu pergi pada malam hari itu, ke suatu tempat bekas rumah roboh, di satu kawasan lama di kota Baghdad bernama al-Karkh.

“Carilah bonggol yang kelima, dan duduklah di situ. Kemudian, gariskan satu bulatan sekelilingmu di atas tanah. Kala engkau membuat garisan, ucapkanlah “Bismillah, dan di atas niat asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani ” Apabila malam telah gelap, engkau akan didatangi oleh beberapa kumpulan jin, dengan berbagai-bagai rupa dan bentuk. Janganlah engkau takut. Apabila waktu hampir terbit fajar, akan datang pula raja jin dengan segala angkatannya yang besar. Dia akan bertanya hajatmu. Katakan kepadanya yang aku telah menyuruh engkau datang bertemu dengannya. Kemudian ceritakanlah kepadanya tentang kejadian yang telah menimpa anak perempuanmu itu.”

Lelaki itu pun pergi ke tempat itu dan melaksanakan arahan asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani itu. Beberapa waktu kemudian, datanglah jin-jin yang cuba menakut-nakutkan lelaki itu, tetapi jin-jin itu tidak berkuasa untuk melintasi garis bulatan itu. Jin-jin itu telah datang bergilir-gilir, yakni satu kumpulan selepas satu kumpulan. Dan akhirnya, datanglah raja jin yang sedang menunggang seekor kuda dan telah disertai oleh satu angkatan yang besar dan hebat rupanya.

Raja jin itu telah memberhentikan kudanya di luar garis bulatan itu dan telah bertanya kepada lelaki itu, “Wahai manusia, apakah hajatmu?”
Lelaki itu telah menjawab, “Aku telah disuruh oleh asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani untuk bertemu denganmu.”

Begitu mendengar nama asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani diucapkan oleh lelaki itu, raja jin itu telah turun dari kudanya dan terus mengucup bumi. Kemudian raja jin itu telah duduk di atas bumi, disertai dengan seluruh anggota rombongannya. Sesudah itu, raja jin itu telah bertanyakan masalah lelaki itu. Lelaki itu pun menceritakan kisah anak daranya yang telah diculik oleh seorang jin. Setelah mendengar cerita lelaki itu, raja jin itu pun memerintahkan agar dicari si jin yang bersalah itu. Beberapa waktu kemudian, telah dibawa ke hadapan raja jin itu, seorang jin lelaki dari negara Cina bersama-sama dengan anak dara manusia yang telah diculiknya.

Raja jin itu telah bertanya, “Kenapakah engkau sambar anak dara manusia ini? Tidakkah engkau tahu yang dia ini berada di bawah naungan al-Quthb ?”
Jin lelaki dari negara Cina itu telah mengatakan yang dia telah jatuh berahi dengan anak dara manusia itu. Raja jin itu pula telah memerintahkan agar dipulangkan perawan itu kepada bapanya, dan jin dari negara Cina itu pula telah dikenakan hukuman pancung kepala.

Lelaki itu pun mengatakan rasa takjubnya dengan segala perbuatan raja jin itu, yang sangat patuh kepada asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani.

Raja jin itu berkata pula, “Sudah tentu, karena asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani boleh melihat dari rumahnya semua kelakuan jin-jin yang jahat. Dan mereka semua sedang berada di sejauh-jauh tempat di atas bumi, karena telah lari dari sebab kehebatannya. Allah Ta’ala telah menjadikan asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani bukan saja al-Qutb bagi umat manusia, bahkan juga ke atas seluruh bangsa jin.”

Telah bercerita asy-Syaikh Abi ‘Umar ‘Uthman dan asy-Syaikh Abu Muhammad ‘Abdul Haqq al-Huraimy :

Pada 3 hari bulan Safar, kami berada di sisi asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani Pada waktu itu, asy-Syaikh sedang mengambil wudu dan memakai sepasang terompah. Setelah selesai menunaikan solat dua rakaat, dia telah bertempik dengan tiba-tiba, dan telah melemparkan salah satu dari terompah-terompah itu dengan sekuat tenaga sampai tak nampak lagi oleh mata. Selepas itu, dia telah bertempik sekali lagi, lalu melemparkan terompah yang satu lagi. Kami yang berada di situ, telah melihat dengan ketakjubannya, tetapi tidak ada seorang pun yang telah berani menanyakan maksud semua itu.

Dua puluh tiga hari kemudian, sebuah kafilah telah datang untuk menziarahi asy-Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jilany. Mereka (yakni para anggota kafilah itu) telah membawa hadiah-hadiah untuknya, termasuk baju, emas dan perak. Dan yang anehnya, termasuk juga sepasang terompah. Apabila kami amat-amati, kami lihat terompah-terompah itu adalah terompah-terompah yang pernah dipakai oleh asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani pada satu masa dahulu. Kami pun bertanya kepada ahli-ahli kafilah itu, dari manakah datangnya sepasang terompah itu. Inilah cerita mereka:

Pada 3 haribulan Safar yang lalu, ketika kami sedang di dalam satu perjalanan, kami telah diserang oleh satu kumpulan perompak. Mereka telah merampas kesemua barang-barang kami dan telah membawa barang-barang yang mereka rampas itu ke satu lembah untuk dibagi-bagikan di antara mereka.

Kami pun berbincang sesama sendiri dan telah mencapai satu keputusan. Kami lalu menyeru asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani agar menolong kami. Kami juga telah bernazar apabila kami sudah selamat, kami akan memberinya beberapa hadiah.

Tiba-tiba, kami terdengar satu jeritan yang amat kuat, sehingga menggegarkan lembah itu dan kami lihat di udara ada satu benda yang sedang melayang dengan sangat laju sekali. Beberapa waktu kemudian, terdengar satu lagi bunyi yang sama dan kami lihat satu lagi benda seumpama tadi yang sedang melayang ke arah yang sama.

Selepas itu, kami telah melihat perompak-perompak itu berlari lintang-pukang dari tempat mereka sedang membagi-bagikan harta rampasan itu dan telah meminta kami mengambil balik harta kami, karena mereka telah ditimpa satu kecelakaan. Kami pun pergi ke tempat itu. Kami lihat kedua orang pemimpin perompak itu telah mati. Di sisi mereka pula, ada sepasang terompah. Inilah terompah-terompah itu.

Telah bercerita asy-Syaikh Abduh Hamad ibn Hammam:

Pada mulanya aku memang tidak suka kepada asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani. Walaupun aku merupakan seorang saudagar yang paling kaya di kota Baghdad waktu itu, aku tidak pernah merasa tenteram ataupun berpuas hati.
Pada suatu hari, aku telah pergi menunaikan solat Jum’at. Ketika itu, aku tidak mempercayai tentang cerita-cerita karomah yang dikaitkan pada asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani. Sesampainya aku di masjid itu, aku dapati beliau telah ramai dengan jamaah. Aku mencari tempat yang tidak terlalu ramai, dan kudapati betul-betul di hadapan mimbar.

Di kala itu, asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani baru saja mulai untuk khutbah Jumaat. Ada beberapa perkara yang disentuh oleh asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani yang telah menyinggung perasaanku. Tiba-tiba, aku terasa hendak buang air besar. Untuk keluar dari masjid itu memang sukar dan agak mustahil. Dan aku dihantui perasaan gelisah dan malu, takut-takut aku buang air besar di sana di depan orang banyak. Dan kemarahanku terhadap asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani pun bertambah dan memuncak.

Pada saat itu, asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani telah turun dari atas mimbar itu dan telah berdiri di hadapanku. Sambil beliau terus memberikan khutbah, beliau telah menutup tubuhku dengan jubahnya. Tiba-tiba aku sedang berada di satu tempat yang lain, yakni di satu lembah hijau yang sangat indah. Aku lihat sebuah anak sungai sedang mengalir perlahan di situ dan keadaan sekelilingnya sunyi sepi, tanpa kehadiran seorang manusia.

Aku pergi membuang air besar. Setelah selesai, aku mengambil wudlu. Apabila aku sedang berniat untuk pergi bersolat, dan tiba-tiba diriku telah berada ditempat semula di bawah jubah asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani. Dia telah mengangkat jubahnya dan menaiki kembali tangga mimbar itu.
Aku sungguh-sungguh merasa terkejut. Bukan karena perutku sudah merasa lega, tetapi juga keadaan hatiku. Segala perasaan marah, ketidakpuasan hati, dan perasaan-perasaan jahat yang lain, semuanya telah hilang.

Selepas sembahyang Jum’at berakhir, aku pun pulang ke rumah. Di dalam perjalanan, aku menyadari bahwa kunci rumahku telah hilang. Dan aku kembali ke masjid untuk mencarinya. Begitu lama aku mencari, tetapi tidak aku temukan, terpaksa aku menyuruh tukang kunci untuk membuat kunci yang baru.

Pada keesokan harinya, aku telah meninggalkan Baghdad dengan rombonganku karena urusan perniagaan. Tiga hari kemudian, kami telah melewati satu lembah yang sangat indah. Seolah-olah ada satu kuasa ajaib yang telah menarikku untuk pergi ke sebuah anak sungai. Barulah aku teringat bahwa aku pernah pergi ke sana untuk buang air besar, beberapa hari sebelum itu. Aku mandi di anak sungai itu. Ketika aku sedang mengambil jubahku, aku telah temukan kembali kunciku, yang rupa-rupanya telah tertinggal dan telah tersangkut pada sebatang dahan di situ.

Setelah aku sampai di Baghdad, aku menemui asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani dan menjadi anak muridnya.